Maulid di MBS Porong Dikemas Berbeda, Santri Diajak Connected with Rasulullah

Bagikan ke :

Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Muhammadiyah Boarding School MBS Porong tidak berhenti pada cerita tentang kelahiran Rasulullah. Senin malam 24 Agustus 2026, para santri justru diajak menyelami kembali berbagai sisi kehidupan, risalah, dan keteladanan Nabi melalui acara bertajuk Tajdid Silah Rasulullah: Connected with Rasulullah.
Berlangsung di Dining Hall MBS Porong pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, kegiatan tersebut dikemas bukan seperti pengajian atau tabligh akbar pada umumnya. Para pengasuh MBS Porong menggunakan beragam pendekatan agar sejarah dan keteladanan Rasulullah terasa lebih dekat dengan kehidupan santri.


Salah satu yang membuat acara terasa hidup adalah penggunaan visualisasi dalam setiap sesi. Materi tidak hanya disampaikan melalui tutur kata, tetapi diperkuat dengan gambar dan video yang ditampilkan dalam ukuran besar. Visual tersebut menjadi jembatan bagi santri untuk membayangkan kembali peristiwa, tokoh, dan konteks sejarah yang sedang dibahas.
Pendekatan tersebut juga membawa suasana kajian menjadi lebih dinamis. Ketika materi membutuhkan perenungan, visual membantu menghadirkan suasana yang lebih reflektif. Sebaliknya, ketika pemateri menyelipkan humor, layar dan ekspresi para santri seolah ikut menjadi bagian dari cerita.
Salah satu sesi dibawakan Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong, Rozaq Akbar, yang mengangkat hikmah di balik Tahun Gajah. Kisah Abrahah dan penyerangan Kabah disampaikan dengan gaya bertutur yang diselingi premis dan punchline ala stand up comedy. Tawa para santri beberapa kali pecah karena humor yang dekat dengan keseharian mereka.
Namun, di balik suasana ringan itu, ada ajakan untuk membaca sejarah secara lebih kritis. Peristiwa penyerangan Kabah tidak hanya dilihat dari perspektif konflik keagamaan, tetapi juga dibaca dalam konteks kepentingan politik dan ekonomi yang melatarbelakanginya.

Membaca Syamail dari Kitab
Nuansa literasi semakin terasa ketika Raushan Fikri menyampaikan materi tentang Syamail Nabi dengan mengambil judul The Art of Prophetic Speech : Mengapa Setiap Sabda Rasulullah Selalu Membekas di Hati. Ketika Rasulullah Berbicara, Kata Kata Menjadi Jelas dan Bermakna.Tidak hanya menampilkan visual di layar, Raushan juga membawa halaman kitab berbahasa Arab ke hadapan para santri. Teks rujukan tersebut ditampilkan sebagai bagian dari penyampaian materi.
Cara ini sekaligus menjadi pengenalan bahwa mengenal Rasulullah tidak cukup hanya melalui potongan cerita yang beredar di media sosial. Ada kitab dan referensi yang menjadi sumber untuk mempelajari karakter serta kehidupan beliau.
Dari pembahasan Syamail, santri diajak memperhatikan bagaimana Rasulullah berbicara jelas, tenang, tidak tergesa gesa, dan tidak menghamburkan kata kata.
Pesannya terasa dekat dengan kehidupan generasi yang hidup di tengah komunikasi serba cepat. Pesan singkat, komentar spontan, dan video pendek membuat orang mudah berbicara sebelum berpikir. Sementara Rasulullah memberikan teladan bahwa komunikasi bukan sekadar tentang banyaknya kata, tetapi tentang ketepatan, kejelasan, dan manfaat.
Dengan menampilkan teks kitab secara langsung, sesi tersebut sekaligus menanamkan kebiasaan literasi mengenal Nabi melalui referensi, membaca sumber, kemudian mengambil keteladanan darinya.

Khadijah dan Peradaban yang Dibangun dalam Diam
Sesi berikutnya menghadirkan Nabila Anisah dan Safira Maratu Nafiah. Keduanya berkolaborasi membawakan materi Siti Khadijah, Arsitek Peradaban Islam yang Bekerja dalam Diam.
Khadijah diperkenalkan bukan hanya sebagai istri Rasulullah, tetapi sebagai perempuan yang memiliki kapasitas besar dalam membangun peradaban.
Melalui kisah aktivitas perdagangan, kemampuan membaca peluang, jejaring sosial, keteguhan menghadapi tekanan, hingga pengorbanannya pada masa boikot, para santri diajak melihat bahwa perempuan memiliki ruang kontribusi yang luas dalam membangun kehidupan dan peradaban.
Khadijah menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus hadir dalam bentuk suara yang paling keras. Ada kepemimpinan yang bekerja melalui ketenangan, kecerdasan, jaringan, pengorbanan, dan integritas.

Sejarah yang Dibaca sebagai Perjalanan Peradaban
Sementara itu, Awaludin Ghani, salah seorang pengasuh MBS Porong, mengajak santri membaca perjalanan dakwah Rasulullah melalui rangkaian peristiwa penting. Ia membawakan judul Meniti Jejak Perjuangan Rasulullah: Pelajaran dari Perang – perang Monumental. Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, Fathu Makkah, Hunain hingga Tabuk tidak sekadar ditempatkan sebagai catatan peperangan. Setiap peristiwa dibaca sebagai bagian dari perjalanan perkembangan umat.
Badar berbicara tentang iman dan keberanian. Uhud mengajarkan disiplin. Khandaq menunjukkan pentingnya strategi. Hudaibiyah memperlihatkan bahwa kemenangan tidak selalu berbentuk kemenangan fisik. Fathu Makkah mengajarkan pengampunan ketika berada dalam posisi kuat.
Dari berbagai peristiwa tersebut, santri diajak melihat sebuah garis merah peradaban tidak tumbuh secara instan. Ada iman, kesabaran, strategi, kedisiplinan, persatuan, dan pengorbanan yang berjalan dalam proses panjang.

Syair yang Menjadi Benang Merah
Menariknya, setiap pergantian pemateri tidak sekadar diisi dengan jeda. Syair dan lantunan lagu bernuansa spiritual hadir sebagai penghubung sekaligus penyimpul antarmateri.
Setelah santri diajak tertawa melalui kisah Tahun Gajah, mereka diberi ruang untuk merenung. Setelah berbicara tentang komunikasi Rasulullah, syair kembali mengajak hati berhenti sejenak. Begitu pula setelah kisah Khadijah dan perjalanan dakwah Rasulullah disampaikan.
Alhasil, rangkaian materi tidak terasa seperti potongan kajian yang berdiri sendiri. Semuanya dirangkai menuju satu pesan yang sama memperbarui kembali hubungan dengan Rasulullah.

Tajdid Silah Rasulullah pada akhirnya bukan hanya tentang memperingati kelahiran Nabi. Ia menjadi ajakan agar santri tidak berhenti pada rasa kagum dan cinta, tetapi mulai bertanya bagaimana menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam cara berbicara, belajar, mengambil keputusan, berkontribusi, dan menjalani kehidupan.
Sebab mengenal Rasulullah bukan sekadar mengetahui kisah masa lalu. Ia adalah upaya menjaga agar cahaya risalah tetap terhubung dengan kehidupan hari ini.
Maulid di MBS Porong Dikemas Berbeda, Santri Diajak Connected with Rasulullah

*) Penulis : Rozaq Akbar

*) Editor : Muhammad Najih Fairuzzamani

Leave a Reply